Arung Jeram Serayu

arung-jeram-serayu

Serayu Ijo Royo royo Tanam Bakti 1000 Pohon


Sejuta Gayam Sejuta Angan
Awalnya adalah kejenuhan berhaha hihi di media sosial, lalu terbersit pikiran untuk mencoba mengaktualisasikan apa yang sering didiskusikan teman-teman medsos. Salah satunya adalah kepedulian warga Wonosobo terhadap lingkungan hidup.
Di antara banyak keprihatinan mengenai kondisi termasa lingkungan hidup di kota kita, erosi menempati peringkat atas. Tingginya tingkat erosi tanah di Wonosobo yang dianugerahi Tuhan dengan daratan berkontur tajam dan curah hujan yang sangat tinggi tidak bisa dipungkiri. Belum pernah ada penelitian ilmiah yang menyebut seberapa tingkat erosi di kota kita, indikasi bodon yang kasat mata adalah mudahnya air sungai berubah warna saat hujan tiba. 

Pertanda lainnya, makin tingginya penggunaan pupuk kandang untuk pertanian di kawasan dataran tinggi Wonosobo. Kebutuhan pupuk kandang, terutama untuk budidaya kentang, kian tahun kian banyak. Fenomena ini tak pelak berbanding lurus dengan tingginya run off (luncuran lapisan tanah/erosi) yang nota bene menghanyutkan lapisan tanah atas (top soil). Petani dan para pemerhati pertanian tentu paham bahwa top soil adalah lapisan tanah yang mengandung unsur hara paling tinggi, ketika lapisannya tiap kali turun hujan tergerus air, maka fertilitas lahan otomatis menurun sehingga kebutuhan pupuk kian meningkat.serayu-adventure


Sayangnya, kerugian ekologis akibat gencarnya upaya peningkatan keuntungan ekonomi di lahan-lahan pertanian kita tidak pernah diperhitungkan. Upaya-upaya recovery lahan kritis di dataran tinggi kita sejauh ini hanya berupa wacana. Terlalu sulit mengubah pola budidaya pertanian yang tidak berwawasan lingkungan yang sudah mendarah daging pada petani-petani kita. Bahkan ketika bencana tanah longsor yang terjadi secara diaspora pada Desember lalu dianggap kejadian biasa. Meluapnya sungai Serayu sampai menghanyutkan dua jembatan gantung yang menjadi urat nadi akses saudara-saudara kita di desa Sampih dan Wora-Wari hanya membuat kita mengelus dada.

November 2014, saya berdiskusi dengan kawan media sosial tentang romansa masa lalu: dulu Wonosobo banyak dinaungi pohonan keras yang tinggi menjulang, mahluk Tuhan yang sanggup mengendalikan keberingasan curah hujan dan menjadi tempat bersarang aneka burung yang sekarang lenyap dari pandangan. Saya sampaikan padanya tentang mimpi kecil seorang warga kota yang ingin menanam pohon kayu keras di pinggiran sungai Serayu tempat ia suka memancing ikan (yang juga kian minim populasinya). Beragam alternatif pohonan kami diskusikan, sampai akhirnya pilihan jatuh pada pohon Gayam.

Gayam (Inocarpus fagiferus), adalah tanaman kayu keras yang banyak tumbuh di dataran rendah sampai ketinggian 600 meter di atas permukaan laut. Serat kayunya yang tidak beraturan membuat pohon ini nyaris tidak punya nilai ekonomi. Pun buahnya yang sebenarnya enak, jarang dikonsumsi karena untuk mengolahnya dibutuhkan keterampilan tersendiri. Tetapi Gayam mempunyai semua kelebihan yang dibutuhkan untuk tujuan konservasi: perakarannya sangat dalam dan kuat, mampu menahan kandungan air tanah. Ia mudah beradaptasi di lingkungan baru, tajuknya rindang, percabangannya lebat. Ia mampu bertahan hidup ratusan tahun.

Secara swadaya saya menanam hampir 200 bibit pohon Gayam di tepian Serayu pada awal Desember 2014. Diam-diam, tidak ada yang tahu. Saya hanya ingin menanam, melihatnya tumbuh besar, dan berharap supaya upaya konservasi swadaya kecil-kecilan itu kelak menarik perhatian orang untuk mengikutinya. Tapi ratusan bibit Gayam itu tersapu bersih oleh banjir Serayu di medio Desember yang luar biasa itu.

Kegagalan itu saya publikasikan di media sosial, di grup diskusi yang anggotanya hampir seratus prosen warga Wonosobo, baik yang masih berdomisili domestik, di luar kota, maupun di luar negeri. Simpati bertaburan, gagasan untuk melanjutkan upaya cinta lingkungan itu berkecambah, tumbuh, tak terbendung. Maka kami mencanangkan program penanaman 1.000 (seribu) bibit Gayam di pinggiran Serayu. Biaya dan seluruh tetek bengeknya kami tanggung bersama, suka rela.

Seperti bola salju, pencanangan program itu menggelinding makin besar. Begitu banyak donatur dan relawan mengambil peran, ada yang menyumbangkan dana pengadaan bibit, ada yang “berburu” bibit di habitat asli pohon Gayam, ada yang menyumbang kaos seragam, perahu karet untuk mobilitas penanaman, relawan-relawan yang siap mengasuh dan menjaga bibit-bibit itu nantinya, relawan penyemai biji Gayam, menyediakan tempat karantina untuk menyehatkan bibit sampai siap tanam, dan sumbangsih yang saya tidak mampu sebutkan lagi… Luar biasa kepedulian itu ternyata… Maka dari semula hanya 1.000 bibit yang kami impikan, dalam sekejap program ini bereskalasi sampai angka 1.000.000 (satu juta) bibit Gayam yang hendak kami tanam.

Berkat semangat dan kepedulian dari berbagai pihak yang sungguh di luar dugaan, program ini akhirnya siap kami aplikasikan di lapangan. Jika tiada aral melintang, 14 Februari 2015 adalah hari yang kami pilih untuk penanaman perdana 1.000 bibit Gayam sumbangan BP DAS Serayu Opak Progo, badan yang memangku pengelolaan sungai Serayu. Penanaman berikutnya akan terus dilakukan secara marathon seiring ketersediaan dan kesiapan bibit hasil sumbangan masyarakat.

Mimpi kecil seorang warga kota, akhirnya menjadi mimpi besar ketika warga kota lainnya turut serta. Maka sebelum segala tetek bengek administrasi kami sampaikan kepada para pengampu kepentingan yang terkait program ini, melalui publikasi harian milik Wonosobo ini kami menyampaikan uluk salam, mengetuk pintu hati siapa saja yang sudi mengambil peranan. Yang kami lakukan murni wujud kecintaan warga kota kepada lingkungan hidup yang telah mengasuh dan membesarkannya. Semoga panjenengan memiliki kesadaran yang sama. (jw)